Kepercayaan terhadap informasi saintifik memperantarai konservatisme dengan respon individu terhadap coronavirus

Wabah coronavirus, yang memberikan dampak negatif bagi jutaan penduduk dunia sejak awal tahun 2020, menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa adaptif individu dalam menghadapi masa-masa sulit. Riset-riset di Amerika Serikat menunjukkan setidaknya ada dua penjelasan mengapa dampak terburuk dari pandemi sulit diatasi. Selain faktor sosiokultural (respon pemerintah yang terlambat, kesalahan strategi pengelolaan bencana oleh pemerintah, dsb.), perilaku dan pandangan individu dalam merespon pandemi juga menyebabkan masalah serius.

Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa respon individu yang mal-adaptif salah satunya disebabkan oleh ideologi politik. Beberapa riset menunjukkan bahwa individu yang cenderung konservatif memiliki kekhawatiran yang kurang intens pada risiko terdampak coronavirus. Namun di sisi lain, temuan ini cenderung counterintuitive karena pada umumnya, orang-orang konservatif biasanya cenderung sensitif dengan ancaman fisik, seperti penyakit menular, dibandingkan dengan orang-orang liberal. Berdasarkan temuan-temuan yang lain, orang-orang konservatif dan liberal memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap berbagai tipe ancaman yang digolongkan sebagai ancaman kolektif, dan oleh karenanya, akan memberikan respon yang berbeda. Oleh karena itu, dalam studi ini, tim peneliti berusaha menginvestigasi apakah asosiasi antara
konservatisme dengan respon coronavirus diperantarai oleh kepercayaan terhadap informasi saintifik. Alasannya, kepercayaan pada informasi saintifik inilah yang menjelaskan adanya hubungan antara konservatisme dengan respon terhadap coronavirus.

Selain itu, studi ini berusaha untuk melihat fenomena yang sama di beberapa negara sekaligus, untuk melihat apakah pola yang sama ditemui di luar Amerika Serikat. Studi ini dilakukan di 21 negara, termasuk Indonesia, dengan total jumlah partisipan sebanyak 25.159 orang. Partisipan direkrut secara potong-lintang dengan sebanyak tiga gelombang, yaitu pada bulan Mei, Juni, dan Juli 2020 dengan bantuan perusahaan survei panel CloudResearch. Model yang diuji menggunakan templat Model 6 dari Hayes dengan pendekatan multi kelompok, dimana konservatisme adalah variabel independen, kepercayaan terhadap informasi saintifik dan kekhawatiran mengenai coronavirus sebagai variabel perantara (mediator), sedangkan kepatuhan terhadap anjuran pencegahan coronavirus sebagai variabel dependen.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa korelasi antar-variabel menghasilkan variasi yang amat besar di berbagai negara. Salah satu temuan yang menarik adalah korelasi antara konservatisme dengan kepatuhan anjuran pencegahan coronavirus ditemukan terkuat di Amerika Serikat dan Indonesia. Hal ini menunjukkan konservatisme tidak memberikan dampak yang sama pada kepatuhan individu pada anjuran pencegahan coronavirus. Salah satu dugaan mengapa korelasi antara keduanya terkuat di Amerika Serikat dan Indonesia adalah kesamaan iklim politik yang cenderung mengalami polarisasi ekstrim di kedua negara. Oleh karena itu, penelitian ini menunjukkan bahwa selain menciptakan instabilitas sosial, polarisasi politik dapat berisiko menciptakan kondisi social anomie, dimana masyarakat tidak lagi memiliki kesepakatan atas aturan dan norma yang berlaku untuk kebaikan bersama.

Temuan yang lain menunjukkan bahwa, di beberapa negara, termasuk di Indonesia, konservatisme berkorelasi negatif dengan kepercayaan terhadap anjuran pakar. Hal ini berkorespondensi dengan karakteristik populisme, yaitu mengakarnya anti-intelektualisme. Anti-intelektualisme adalah pandangan yang cenderung menolak aktivitas, produk, institusi, dan aktor yang bekerja untuk pengetahuan, karena dipandang sebagai „musuh“ secara en masse. Ilmuwan dan institusi saintifik dipandang sebagai „elit“ yang dicurigai sekadar mencari keuntungan dari ketidakberdayaan masyarakat. Hal ini memperkuat urgensi perlunya menghindari langgam populisme dalam politik elektoral, karena berisiko kontraproduktif dengan kepentingan masyarakat.

McLamore, Q., Syropoulos, S., Leidner, B., Hirschberger, G., Young, K., Zein, R. A., … & Burrows, B. (2022). Trust in scientific information mediates associations between conservatism and coronavirus responses in the US, but few other nations. Scientific reports, 12(1), 1-15. https://doi.org/10.1038/s41598-022-07508-6