Menyusun Proposal Penelitian bagi Peneliti Pemula

by Niamah // Peserta ACEHAP Junior Fellowship Program 2022

Baik mahasiswa S1, S2, maupun S3 pada akhirnya akan melakukan penelitian sesuai dengan tingkatannya. Namun, untuk melakukan suatu penelitian perlu melalui proses sistematis mulai dari tahap penyusunan proposal, hingga publikasi.

Bagi Dokter Ahmad Fuady, Peneliti asal Universitas Indonesia sekaligus Erasmus MC Rotterdam, aktivitas meneliti yang dulunya dirasa bukan passionnya—tidak disangka—justru menjadi profesinya sekarang.

Hal tersebut berawal ketika ia lulus kemudian dikirim ke suatu daerah yang terkena gempa. Pada saat itu, ia tengah dihadapkan pada situasi yang mengharuskannya merumuskan suatu kebijakan.

“Mau gak mau, kita gak boleh bikin policy hanya dari prasangkaan, asumsi, hanya penglihatan, tapi harus juga melakukan penelitian,” paparnya dalam sharing session yang diadakan oleh The Airlangga Centre for Health Policy Research Group (ACEHAP), Minggu (20/3).

Tujuh Tahapan

Dalam sesi ini, Dokter Fuady memaparkan tujuh tahapan yang perlu dilakukan seseorang jika ingin meneliti. Tujuh tahapan tersebut adalah pertama, mengeksplorasi ide. Ide dapat diperoleh melalui perkuliahan, tugas, bacaan, hingga observasi. 

Kedua, merumuskan topik. Ketika merumuskan topik perlu memperhatikan detail seperti apa, di mana, dan kapan penelitian dilakukan. 

Ketiga, melakukan literature review. Literature review bertujuan untuk memastikan belum ada penelitian sebelumnya terkait topik yang akan diteliti. Kecuali, ada penelitian tentang topik tersebut, namun dengan perspektif terbatas dengan alasan historikal (sudah lama diam tidak diteliti lagi), disiplin tertentu, geografis, membandingkan, banyak dimensi, mapping dan gap.

Keempat, menentukan problem statement. Problem statement berbeda dengan problem, Problem statement dalam proposal didefinisikan sebagai problem yang perlu dijawab dengan penelitian yang akan dibuat.

Kelima, merumuskan tujuan. Tujuan dibedakan menjadi dua yakni aim dan objective. Perbedaan keduanya, aim adalah sebuah pernyataan tujuan untuk menjawab masalah secara umum dan tidak bisa diukur. Sedangkan objective seringkali disebut sebagai tujuan operasional dan bisa diukur. Dalam suatu penelitian, biasanya hanya terdapat 1 aim dan 2 hingga 5 objective.

Keenam, merumuskan hipotesis. Secara teknikal, hipotesis adalah cara untuk menguji objective yang dibuat dalam penelitian. Ketika ide ke tujuan disebut sebagai hipotesis umum, Setelah itu, barulah menentukan hipotesis khusus yang nantinya perlu diuji secara statistik.

Ketujuh, menentukan metodologi desain. Secara umum, dalam penelitian terdapat dua metode yakni observasional dan intervensional. Observasional sendiri dibagi menjadi potong lintang, longitudinal, case control, cohort, dan lain-lain. Sedangkan yang sering didengar, yakni kuantitatif dan kualitatif bukan merupakan desain, melainkan suatu metode pendekatan data. 

Tangkapan layar sesi materi yang disampaikan oleh Dokter Fuady [Dokumen pribadi]

Tidak Harus Baru

Sering kali ketika hendak melakukan penelitian, seseorang biasa terbebani dengan unsur novel atau kebaruan dalam menentukan topik. Namun, menurut Dokter Fuady, suatu penelitian tidak harus memiliki unsur tersebut. Ia memberikan contoh, suatu penelitian mungkin memiliki topik, metode, dan instrumen yang sama, namun dapat diteliti kembali dalam lokasi dan waktu yang berbeda.

“Bisa jadi, sebuah penelitian hanya menemukan satu pengetahuan baru meskipun pendekatannya tidak baru. Gak harus novel. Tapi, dalam strata satu yang paling penting dalam proses penelitian adalah bagaimana seseorang bisa membangun konstruksi berpikir secara runtut sehingga nanti ia dapat memproduksi pengetahuan baru,” katanya.

Selain menyinggung unsur kebaruan, menurutnya, suatu penelitian juga tidak harus berdampak ke masyarakat luas karena setiap penelitian memiliki tujuan masing-masing.

“Tidak serta merta semua hasil penelitian dikonsumsi masyarakat luas. Masyarakat itu sendiri perlu dipetakan lagi menjadi masyarakat akademik, policy maker, atau bisa untuk umum,” jelasnya.

Kepada calon peneliti, Dokter Fuady juga mengingatkan bahwa tidak ada penelitian yang tidak bermanfaat. Dalam pandangannya, topik penelitian selalu bermanfaat ketika diarahkan dengan baik oleh mentor atau pembimbing.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=S4Z26wbBMLQ&t=405s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.